Sunday, 15 February 2015

Trik kehabisan tiket kereta api ekonomi


Trik kehabisan tiket kereta api ekonomi
Kebijakan PT Kereta Api Indonesia yang melayani penjualan tiket 90 hari sebelum keberangkatan merupakan langkah maju. Pencantuman identitas penumpang pada tiket juga sangat tepat karena dapat menghapuskan percaloan. Namun di samping membawa dampak positif kebijakan tersebut juga membawa dampak negatif bagi sebagian kalangan masyarakat terutama masyarakat kalangan bawah pengguna kereta api ekonomi.

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan sesama penumpang kereta dalam perjalanan menuju Solo. Tono mengeluhkan sulitnya mendapatkan tiket kereta karena selalu tiket selalu habis ketika akan berangkat dari Surabaya menuju Jakarta. Ia biasa mendapati tiket ke Jakarta untuk beberapa hari ke depan telah habis. Orang yang berkantong tebal sudah membeli tiket untuk beberapa kali penjalanan sesuai rencana. Bahkan ada yang beli tiket PP setiap minggu untuk 3 bulan ke depan.

Tono tidak pernah membeli tiket sebelum hari keberangkatan karena termasuk masyarakat berpenghasilan rendah. Jika mau berangkat ke Jakarta, ia langsung ke stasiun dan membeli tiket pada hari itu. Ketika mendapati tiket kereta yang di inginkan habis maka ia mencari tiket kereta setelahnya sampai dapat dan menunggu kalau ada pembatalan tiket. Bahkan kalau sampai tidak dapat tiket Tono bermalam di stasiun untuk mencari tiket pada hari berikutnya. Hal itu ia lakukan untuk menghemat ongkos karena rumahnya jauh dari stasiun, kalau harus pulang lagi ongkosnya sangat memberatkan.

Begitu juga ketika mau kembali ke Surabaya, ia harus standby di stasiun menunggu orang membatalkan tiket, kalau ada yang mau membatalkan tiket langsung ditempel antriannya supaya bisa dapat tiketnya. Bahkan sampai agak ekstrim, setiap orang yang bawa tiket ditanya ‘ Pak/Bu/Mbak mau mbatalin tiket?’. Orang yang ditanya mungkin berfikir ‘orang aneh’. Namun ia tidak mempedulikanya, yang penting bisa pulang.

Lain halnya dengan pengalaman Heru, seorang penumpang yang lain, khusus untuk kereta api bersubsidi dengan tarif tunggal semisal kereta Gaya Baru Malam, ia berani membeli tiket  walaupun tujuan tiket tidak sampai stasiun yang akan ia tuju. Misal ia mau pergi ke Solo, namun tiket yang tersedia tinggal Jakarta – Kroya, maka ia beli tiket itu, yang penting bisa masuk kereta, katanya. Sepanjang perjalanan Jakarta-Kroya dia menempati kursi sesuai tiket, namun setelah stasiun Kroya dia berpindah ke tempat yang kosong. Setiap stasiun dia bersiap-siap pindah ke tempat yang lain apabila kursi ditempati penumpang baru. Dengan cara itu ia yakin aman dari kontrol petugas, dan seandainya sampai ketahuan, ia yakin petugas tidak akan menurunkan di stasiun berikutnya sesuai ketentuan PT KAI, karena kereta yang dinaiki adalah kereta api ekonomi bersubsidi dengan tarif tunggal, ‘jauh dekat kan harganya sama’. Ia sudah melakukannya berkali-kali dan aman-aman saja.

Demikianlah pengalaman  dua orang penumpang yang menyiasati kehabisan tiket kereta agar bisa tetap naik kereta. Kereta yang seharusnya dinikmati masyarakat kelas bawah ternyata banyak pula digunakan orang yang tidak seharusnya sehingga merugikan rakyat kecil. Semoga ditemukan solusi atas pemasalahan ini. Semoga bermanfaat. 

Sunday, 8 February 2015

BERBURU TIKET KERETA API KELAS EKONOMI

BERBURU TIKET KERETA API KELAS EKONOMI

Kereta api kelas ekonomi bersubsidi menjadi primadona bagi mayarakat berpenghasilan rendah sebagai transportasi andalan mereka. Bahkan banyak pula masyarakat berpenghasilan menengah dan tinggi pun ikut menikmati kereta ini. Sebagai contoh kereta api Gaya Baru Malam. Bayangkan saja betapa murahnya tiket kereta yang sudah dilengkapi fasilitas AC ini, berangkat dari Jakarta tujuan Surabaya hanya seharga Rp.55.000,- saja. Kalau dibandingkan dengan naik bus sangat jauh harga dan juga waktu tempuhnya. Maka banyak orang berebut untuk mendapatkan tiketnya, tak jarang tiket habis jauh hari sebelum tanggal keberangkatan, terutama pada waktu akhir pekan atau libur panjang.

Kebijakan PT Kereta Api Indonesia yang melayani penjualan tiket 90 hari sebelum keberangkatan merupakan langkah yang maju. Pemesanan dapat dilakukan melalui agen-agen yang ditunjuk termasuk mini market yang tersebar di berbagai daerah serta dapat dilakukan melalui internet. Pemesanan juga bisa dilakukan dimanapun dengan smartphone. Setelah kode booking diperoleh, biaya dapat di transfer melalui ATM atau e-banking. Setelah dibayar tiketpun bisa dicetak secara mandiri di stasiun kereta api.


Sejak dibukanya akses pemesanan tiket online, para pengguna bisa merencanakan perjalanan mudik atau berwisata jauh hari. Khusus pada waktu menjelang libur panjang terutama lebaran, pengguna kereta api harus siap-siap berebut tiket. Mereka harus rela bergadang menunggu pukul 00.00 untuk bisa memesan tiket pada hari yang diinginkan. Bahkan teman saya sampai butuh 3 malam melakukannya karena pada dua malam sebelumnya gagal memperoleh tiket karena habis setelah pemesanan dibuka, mungkin karena banyaknya peminat. Hal itu juga dilakukan untuk mencari tiket kembali ke Jakarta. 

Bagi orang yang gagal mendapatkan tiket lebaran, sempat khawatir karena harus menggunakan alternatif transportasi lain. Namun akhirnya PT Kereta Api Indonesia menyediakan kereta lebaran tambahan  sehingga bagi calon penumpang yang belum mendapatkan tiket bisa mudik ke kampung halaman dan kembali ke Jakarta menggunakan kereta api.

Friday, 6 February 2015

Kartu Bayi BPJS atau Kartu Sementara BPJS

Kartu Bayi BPJS atau Kartu Sementara BPJS

Kartu bayi merupakan kartu BPJS sementara untuk bayi yang baru lahir sebelum mendapatkan kartu BPJS. Fungsi dari kartu bayi adalah untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang ditanggung oleh BPJS. Masa berlaku kartu sementara adalah 30 hari sejak bayi lahir. Kartu BPJS akan diterbitkan setelah anak mendapatkan Nomor Induk Kependudukan dari kantor catatan sipil dan didaftarkan kembali ke BPJS. Berikut adalah pengalaman kami.

Pada 2 anak yang pertama, meski kami memiliki Kartu Askes PNS kami tidak menggunakan kartu tersebut karena isteri  memilih melahirkan di dokter kandungan yang selama ini menangani kehamilan dan dokter tersebut hanya praktek di rumah sakit swasta. Alhamdulillah untuk kelahiran 2 anak yang pertama normal sehingga tidak membutuhkan biaya yang terlampau banyak.  Saya hanya mengklaim reimbursment biaya kelahiran dan diganti sebesar Rp.300.000,-.

Pada kelahiran anak yang ke-3 kami menggunakan Kartu Askes PNS karena memang penggunaan yang semakin mudah dan di Rumah Sakit Swasta sudah bisa digunakan. Proses kelahiran harus melalui operasi caesar karena bayi besar dan tali pusar pendek. Terbayang berapa jumlah biaya yang harus dikeluarkan seandainya tidak menggunakan fasilitas kartu askes.

Setelah kelahiran pihak rumah sakit memberitahukan bahwa saya harus segera membuat kartu bayi agar biaya untuk perawatan bayi bisa di tanggung BPJS. Syarat pembuatan kartu bayi :
1     Fotokopi kartu askes ibu
2.       Fotokopi kartu keluarga
3.       Fotokopi KTP  ayah-ibu
4.       Fotokopi surat keterangan lahir dari rumah sakit

Pelayanan di kantor BPJS Surakarta sangat memuaskan. Seperti pengurusan kartu askes sebelumnya dan pengurusan penggantian biaya persalinan, pelayanan petugas sangat ramah dan cepat. Pemberian informasi oleh petugas sangat jelas serta pemrosesan kartu bayi cepat sehingga kartu bisa segera digunakan. Kebetulan saya mengurus pada hari terakhir dengan sisa waktu 1 jam sebelum kantor tutup, padahal sebelumnya saya sudah pesimis. Tetapi mungkin sudah rejeki saya akhirnya kartu itu bisa saya dapatkan.

Pasien BPJS lain yang bersamaan tidak bisa mendapatkan kartu bayi karena berbagai sebab akhirnya harus membayar sendiri biaya perawatan bayi kelahiran secara caesar dengan jumlah yang cukup lumayan sekitar Rp.4,5 juta. Hanya perawatan ibu melahirkan yang ditanggung. Beruntung saya bisa menghemat biaya dengan memanfaatkan kartu bayi, hal ini tentu berkat informasi yang tepat dari petugas rumah sakit.

Jangan pandang sebelah mata, BPJS sangat bermanfaat.

Demikian pengalaman kami, semoga bermanfaat.

Pengalaman Menggunakan Kartu Askes PNS di RS PKU Muhammadiyah Solo

Pengalaman Menggunakan Kartu Askes PNS atau Kartu BPJS di RS PKU Muhammadiyah Solo

Meski memiliki kartu askes karena saya berstatus sebagai PNS, kami tidak selalu menggunakan kartu tersebut, hanya beberapa kali saja. Namun setiap ada tambahan anggota keluarga selalu segera kami urus untuk berjaga-jaga. Kartu itu merupakan hak kami karena membayar iuran tiap bulan yang langsung dipotong dari gaji.

Bila sakit kami mencoba ke dokter keluarga askes dulu tapi kadang tutup atau antrian terlalu panjang, maka kami beralih ke dokter umum. Belum lagi kalau ‘nebus’ obat di apotek, mungkin karena pakai askes jadi lama sekali, kadang di suruh pulang dulu, kalau selesai ditelpon. Inilah yang membuat kami jarang menggunakan kartu askes untuk berobat, apalagi kalau yang sakit anak-anak.


Akhir Nopember lalu, 2 anak kami sakit dan harus dirawat secara bersamaan di rumah sakit, padahal kami baru mempersiapkan biaya untuk kelahiran anak kami yang ke-3 dengan usia kandungan hampir 9 bulan. Anak pertama menderita demam berdarah dan anak kedua menderita radang tenggorokan akut sehingga panas tinggi sehari setelah anak pertama opname. Untunglah kartu askes/BPJS sudah bisa langsung digunakan di rumah sakit swasta meski tanpa surat rujukan. Hak kami menempati kelas 2 sesuai golongan kepangkatan PNS. Karena kondisi anak dan isteri yang sedang hamil (supaya bisa menunggu dengan nyaman) maka kami minta naik kelas 1, namun karena kelas 1 penuh kami naik ke kelas VIP.

Ketika di kelas 2 selama 1 malam, perawatan cukup memuaskan meski pasien kartu askes, maklum di rumah sakit swasta, mungkin di rumah sakit pemerintah juga sudah demikian. Ketika dalam masa perawatan beberapa kali perawat menawarkan obat non BPJS dengan kelebihan kesembuhan bisa lebih cepat dan maksimal. Jika kami bersedia maka kami harus menandatangani pernyataan penggunaan obat non BPJS. Bagi kami penjelasan perawat tersebut sangat membantu kami dalam pemberian informasi mengenai pemilihan obat dan pengambilan keputusan.

Anak kami dinyatakan bisa pulang ketika hari libur sehingga perhitungan biaya yang ditanggung BPJS tidak bisa dilakukan. Pihak rumah sakit meminta pembayaran 70 % dari total biaya kamar, obat dan perawatan karena diperkirakan yang ditanggung BPJS 30%. Apabila terdapat kekurangan atau kelebihan pembayaran pihak rumah sakit akan menghubungi. 3 hari kemudian pihak rumah sakit menghubungi bahwa terdapat kelebihan pembayaran dan bisa diambil. Total biaya yang ditanggung BPJS sekitar 35% dari keseluruhan biaya rumah sakit. Bagi kami manfaat BPJS tersebut sudah sangat membantu mengingat kami naik kelas dari 2 ke VIP dan menggunakan beberapa obat non BPJS.

Semoga pengalaman ini tak terulang kembali
Semoga bermanfaat

Friday, 2 May 2014

Cara Menanam Cabai di Polybag


Setelah berhasil menanam berbagai sayuran dan menikmati hasilnya, kini waktunya mencoba menanam cabai. Kali ini dengan media air (hidroponik) dan media tanah dengan polybag. Masih dalam upaya menghijaukan teras rumah dengan hijauan non tanaman hias. Namun dalam perjalanan waktu penanaman cabai dengan hidroponik kurang optimal karena berbagai sebab. Karena itu kita bahas menanam cabai dalam polybag saja.

Kembali saya menggunakan tanah bercampur pasir di selokan depan rumah ditambah kompos sebagai pengaya nutrisi. Awalnya saya membeli bibit di toko, namun ketika disemai, biji-biji itu tidak tumbuh. Namun dari media tanam tumbuh beberapa kecambah dan beberapa diantaranya adalah cabai. Saya memilih cabai rawit yang tumbuh bagus untuk dipelihara. Sebagai perbandingan saya juga membesarkan cabai merah keriting. Pemilihan cabai rawit karena faktor produktfitas dan umur produksi yang lebih lama, selain itu juga lebih tahan dari hama penyakit.

Bibit di pindah ke polybag lalu siram dengan air yang cukup, tunggu sampai besar. Dalam perkembangannya, tanaman cabai banyak mengalami kendala yaitu hama berupa kutu yang berwarna hitam, kuning atau putih. Alhamdulillah tanpa treatment apapun semua kutu teratasi dengan musuh alami yaitu semut. Penyiraman dan pemupukan dilakukan seperlunya saja.


Hasilnya cabai merah keriting panen lebih dulu, cabai rawit hasilnya luar biasa. 

Penyemaian cabe

Cabe di polybag

Tinggi pohon cabe keriting

Panen pertama cabe merah keriting

Selamat berkebun.


Saturday, 15 March 2014

CARA MUDAH MENANAM SAYURAN



Belakangan ini harga sayuran di pasar naik cukup tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh pasokan yang terganggu akibat bencana alam seperti banjir dan gunung meletus. Sentra pertanian khususnya sayuran didominasi wilayah  dataran tinggi terganggu akibat debu dan pasir vulkanik. Kejadian naiknya harga sayuran  bahan makanan lain  seperti cabai, bawang dll sering terjadi berulang dengan penyebab yang berbeda, bahkan sering membuat pemerintah kalang kabut. Himbauan Menteri Pertanian untuk menanam sayuran dalam upaya menghindari dampak fluktuasi harga kebutuhan sangat tepat. Namun masyarakat belum banyak yang melaksanakannya dan hanya mengandalkan dari petani saja. Mungkin perlu sosialisasi mudahnya berkebun.


Bagi anda yang suka menanam namun tidak mempunyai lahan sempit, ada banyak cara untuk mengatasinya yaitu dengan media pot, polybag, sistem vertikultur atau sistem hidroponik. Masing-masing punya keunggulan dan kelemahan. Berikut ini cara mudah berkebun yang sudah saya praktekkan menyesuaikan situasi dan kondisi dan cukup berhasil.

Potong botol bekas air mineral jadi 2 bagian, lubangi dengan paku yang dipanasi.

Gunakan kain flanel, potong lalu masukkan ke botol bagian atas.
Susun dengan posisi bagian atas terbalik, isi dengan media tanam, bisa pasir, arang sekam atau media tanam  lain, isi bagian bawah dengan air dan beri pupuk. Untuk awal pertumbuhan tanaman, media tanam perlu di beri pupuk secukupnya.
Isi media dengan bibit.

Kontrol air jangan sampai habis, semakin besar tanaman konsumsi air semakin banyak.

Siap dipanen. Selamat Berkebun.

Saturday, 15 February 2014

Menanam Kacang Panjang di Polybag

Kita menyadari bahwa menjadi petani bukanlah pekerjaan yang mudah. Mereka harus berjuang dengan cuaca, ketersediaan air dan musuh bernama ‘hama’. Selain itu mereka juga harus bersiap dengan fluktuasi harga saat panen yang cenderung tidak bersahabat. Mungkin inilah yang menyebabkan anak muda sekarang tidak mau jadi petani. Salut untuk para petani yang masih bertahan menyediakan pangan bagi kita semua.



Inilah yang memberikan ide untuk mendidik anak berkebun agar merasakan bagaimana tidak mudahnya proses panjang makanan sampai ke mulut kita.


Hari ini, kami panen kacang panjang. Meski sedikit kami menamainya ‘panen’. Pada awalnya ketika menanam, saya ragu  apakah bisa panen ataukah tidak, mengingat bahwa sayuran sangat rentan diserang hama. Meski tanpa pestisida, tanaman kacang panjang ini tumbuh subur tanpa hama dan berbuah cukup panjang dan sehat (70 cm). 

Berbeda dengan metode yang saya pakai untuk menanam bayam dan kangkung dengan semi hidroponik, kacang panjang ini ditanam dengan cara konvensional yaitu dengan polybag berisi pasir, tanah dan kompos.


Selamat berkebun.

Blogroll

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!