Berdamai dengan Psoriasis


Kedua lengan tangan dan kaki Siswantoro dipenuhi bercak merah. Warga Sumber, Banjarsari, Solo itu tidak malu memperlihatkan kondisi kulitnya. Menurutnya, hal itu bukan aib yang harus disembunyikan. Bercak tersebut merata di sekujur tubuh, tak terkecuali muka. Namun bercak di wajahnya tak separah di bagian lainnya, lebih bersih. Kulit aslinya yang kuning langsat terlihat jelas.
Siswantoro mengidap psoriasis sejak kecil. Saat masih anak-anak, kulitnya sering ada bercak merah. “Sejak kecil sudah ada. Saya pikir hal biasa karena munculnya hanya saat-saat tertentu. Tiba-tiba hilang, muncul lagi,” kata dia saat ditemui Espos di rumahnya, Senin (5/3) sore.
Ia baru mengetahui penyakit itu saat di SMA. Bercak merah makin meluas saat remaja hingga dewasa.
Dengan usianya 32 tahun, ia mengidap psoriasis selama 15 tahun dan belum menunjukkan adanya kesembuhan. Datang ke dokter spesialis kulit, menjalani pengobatan kimia hingga herbal telah ia jalani. “Saat awal pemakaian obat manjur, langsung berkurang banyak. Namun setelah lama dipakai, tidak manjur lagi, ” tutur dia.
Hingga kini, ia tetap mengonsumsi obat herbal untuk mengurangi sakit. Ia mengatakan psoriasis yang ia alami kemungkinan disebabkan faktor genetik. Ibu, tante dan neneknya mengidap sakit yang sama. Bedanya, yang dialami Siswantoro lebih parah daripada yang diderita keluarganya. “Ibu saya malah sudah bisa dikatakan sembuh, tidak kambuh lagi selama lebih dari 15 tahun. Mungkin karena sudah tenang pikirannya, tidak ada beban lagi,” tutur pria berputri dua ini.
Dipicu stres
Karena itulah, penderita psoriasis harus berdamai dengan penyakitnya. Stres malah memperparah psoriasis. Saat beban kerja meningkat yang berakibat pada stres, ia merasa gatal dan panas di sekujur tubuh. “Tiga tahun terakhir yang paling berat. Apalagi saat Desember (pelaporan),” tutur pria yang bekerja di Kantor Pelayanan Pajak Karanganyar. Kondisinya mulai membaik saat dirinya merasa nyaman dan beban pikiran berkurang. Malah ada yang menyarankan agar dia memilih pekerjaan yang ringan.
Beruntung ia berada di lingkungan kantor dan kampung yang dapat menerima kondisinya. Ia tidak mendapatkan perlakukan buruk atau diskriminasi dari rekan kerja, atasan atau tetangga. Menurutnya, semua bersimpati dan memberi dukungan untuk kesembuhan. “Rekan kerja dan atasan saya sudah tahu, kalau ada keluhan sakit, saya disuruh untuk bilang. Tetangga juga paham. Malah ada yang memberikan obat dan informasi tempat pengobatan.”
Siswantoro tidak merasa malu untuk menjelaskan sakit yang ia derita. Malah, penjelasan tersebut membuat orang di sekitarnya menjadi peduli. “Ada yang lihat, tanya, ya saya jelaskan apa adanya. Salah satunya, penyakit ini tidak menular meski bersentuhan,” tutur dia.
Dengan sikap terbuka, masyarakat akan mendapat pemahaman yang benar sehingga tidak ada stigma dan diskriminasi.



http://www.solopos.com/2012/03/14/psoriasis-berdamai-dengan-psiriosis-170347

Comments